[FanFiction] Ending Oregairu - Lima Tahun Semenjak Terakhir Kali Kami Bertemu







Sembari mengisi kekosongan blog, kali ini saya mau mempublikasikan FanFiction Oregairu buatan teman saya yang langsung menuju ke final chapter di mana ini adalah akhir kisah romansa Hachiman. Dengan siapa ya cinta Hachiman berlabuh? Silakan dibaca saja. ヽ( ´ v ` )ノ














Catatan penulis:

FanFiction ini sebenarnya sudah dibuat sebelum Light Novel volume 10 dan 11-nya serta anime season 2 nya keluar, tapi saya hanya membagikan di facebook serta kepada teman-teman saya saja.
Jadi kalau kontennya tidak membahas sekilas tentang apa yang terjadi pada vol 10 & 11-nya, saya mohon maaf. ~(^◇^)/
Dan saya juga mohon maaf apabila membuat banyak tim waifuu yang ada di Oregairu merasa kecewa dengan ending yang dibuat. (ノ ̄ω ̄)ノ


Link Download PDF: Pastebin


Baca online silakan langsung saja di bawah:




Fanfic
Final Chapter (Ending) Yahari Ore no Seishun Love Comedy wa  Machigatteiru (Oregairu) – Lima Tahun Semenjak Terakhir Kali Kami Bertemu


Oleh: Alexander Yosua Adiguna

Sulit untuk dipercaya.
Begitulah apa yang terlintas di pikiranku saat ini. Di dalam sebuah kamar yang sejuk ini, tepatnya di atas sebuah kasur, aku sedang merebahkan diri sambil menatap langit-langit.
Semenjak lulus SMA dan hingga menjadi sarjana, cara hidupku tidak banyak berubah. Tidak jauh berbeda ketika aku menjalani masa SMA dan juga kuliah. Aku tetap memegang teguh peran bahwa aku seorang penyendiri. Peristiwa-peristiwa penting dalam hidupku juga tidak banyak mengalami pertambahan. Tetapi yang banyak berubah tanpa kusadari adalah lingkungan di sekitarku.

Termasuk dalam keluargaku sendiri. Adikku Komachi telah menjadi kebanggaan orang tuaku karena keberhasilannya menjadi atlet tingkat nasional. Sebenarnya kemampuannya juga sudah tidak diragukan lagi semenjak SMP. Namun tetap saja seiring waktu berjalan, kemampuannya pun semakin meningkat.

Lalu, orang yang sering di dekatku dengan khayalan-khayalannya yang menjengkelkan, Zaimokuza, berhasil menciptakan gim yang ia buat dengan beberapa temannya yang juga masih mengidap penyakit khayalan itu. Meski tidak terlalu sukses, tapi berkat penjualan fantastis dari sebuah permainan yang baru pertama kali rilis, itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi para pembuatnya.

Selain itu Totsuka Saika kini sudah menjadi model karena wajahnya yang menggemaskan. Entah kenapa aku pun tak tahu kenapa dia malah memilih terjun ke bidang entertainment seperti itu, namun yang kusyukuri adalah sikapnya kepadaku tidak berubah. Dia masih sering berbicara dengan nada dan tampang menggemaskan, terutama ketika berbicara denganku, yang membuatku tersipu olehnya. Hingga kini pun, aku dengannya masih berhubungan dengan baik. Meski hanya sebatas teman.

Akan tetapi ... bagaimana denganku? Hidupku tidak banyak berubah. Tidak banyak mengalami peristiwa penting. Namun, suatu kebanggaan tersendiri karena aku berhasil berkecimpung di dunia bisnis online yang menjadikanku tidak perlu repot-repot bekerja dalam suatu perusahaan. Meskipun repot bila ada banyak pesanan, tapi bagiku tetap saja tidak seletih bekerja dalam suatu perusahaan. Apalagi jika atasan di tempatmu bekerja sering marah, lalu punya teman kantor yang tidak bisa diajak kerja sama, itu akan menambah beban pekerjaanmu, ‘kan?

“Dunia tidak akan berubah, tapi kau dapat mengubah dirimusendiri. Jadi bagaimana caranya kau mengubah dirimu?”

Mengubah diri sendiri itu bukanlah suatu keharusan, tapi suatu tindakan yang akan tercapai apabila dirimu memiliki niat yang serius. Orang akan menganggap dirimu menjadi aneh ketika dirimu berubah ke arah yang menurut pandangan orang lain itu tidak umum. Tetapi, orang akan juga akan memandangmu dengan heran apa bila dirimu yang dahulu itu aneh dan terbelakang, namun pada akhirnya kau malah berubah menjadi sosok yang jauh lebih sukses di banding orang-orang yang memandangmu itu.
Tidak peduli apa yang kau lakukan, pasti pertama kali orang lain memandang sisi negatif ketika kau melakukan perubahan dalam dirimu.

Jadi sebenarnya ketimbang kau berusaha mengubah dirimu yang membutuhkan keberanian ekstra, kenapa tidak kau mencoba menerima dirimu yang sekarang- setidaknya untuk saat ini? Yah, walau pada akhirnya, itu merupakan kebebasan bagi masing-masing individu untuk melakukannya.

“Ada banyak hal yang tidak bisa terulang kembali. Tetapi dunia akan terus berputar, tidak peduli mau kau menangis ataupun tertawa.”

Ya, banyak hal dalam hidupku yang kuharap tak dapat terulang dan aku baik-baik saja bila begini. Biasanya hal-hal terindahlah yang tidak dapat terulang dan hanya akan menjadi kenangan. Yah, aku juga tidak punya banyak kenangan akan hal-hal indah, sih. Dan, mungkin saja orang lain pun begitu, tapi mungkin saja tidak ….

Kembali ke topik awal, sesuatu yang kualami sekarang adalah sesuatu yang sulit untuk dipercaya. Lebih tepatnya, mustahil untuk dipercaya. Walau kutahu ada banyak hal yang bisa terjadi di dunia ini, aku masih tetap tidak percaya. Memang masih terngiang dibenakku perkataan yang diucapkan olehnya, tetapi kenapa harus aku?

Aku tahu perasaannya itu memanglah tulus, bukan seperti perempuan-perempuan nan baik yang berada di luar sana. Tetapi rasanya perkataanya itu masih sulit kupercaya.

Bicara tentang perempuan, aku tidak terlalu punya kenangan yang bagus dengan perempuan-perempuan yang pernah kukenal.

Yukinoshita Yukino, aku memang menganggapnya seorang perempuan yang mempunyai filosofi hidup tak jauh berbeda denganku, tetapi perbedaan mendasar yang sangat menentukan adalah bahwa kenyataan dia sangat populer ketika aku masih SMA. Aku memang memiliki sedikit ketertarikan akan sikap dan sifatnya itu, namun ketika kami sudah agak dekat (mungkin hanya menurutku saja) dia lulus SMA, melanjutkan studi ke luar negeri. Memang bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat orang tuanya itu adalah orang kaya. Dan semenjak kepindahannya itu, kami tak pernah sekali pun bertukar pesan. Mungkin di sana dia sudah menikah.

Isshiki Iroha. Sosok ceria berwajah cantik sekaligus adik kelasku yang akhirnya menjadi ketua osis. Dan semenjak saat itu, ketika dia meminta bantuan mengenai osis, aku biasanya turun tangan membantunya karena kumerasa dirikulah yang sangat terlibat dalam proses dia menjadi ketua osis walau awalnya dia tidak meninginkannya. Sama seperti kebanyakan perempuan lain, dia cantik, dia riang, dan dia juga baik. Baik ke semua orang. Dan yang paling penting dia juga menyukai Hayama Hayato. Fakta yang terakhir itulah yang membuktikan bahwa dia tidak berbeda dari kebanyakan perempuan di sekolahku. Pada awalnya aku mengira dia suka sama Hayama hanyalah sebatas kagum akan ketampanannya saja. Tapi ternyata dia benar-benar suka. Itu terbukti ketika aku, Yukinoshita, Yuigahama, Isshiki, beserta Hayama dan kawan-kawan pergi ke taman hiburan, dia menyatakan perasaannya kepada Hayama. Dan berujung penolakan pada akhirnya. Aku tidak mengerti kenapa Hayama dengan spontan menolaknya. Aku bisa dibilang lelaki yang sebenarnya paling dekat dengan Isshiki saat di SMA, namun hubungan kami tetap datar-datar saja. Aku tidak tahu apakah Isshiki punya perasaan terhadapku atau tidak. Reaksinya terhadapku tetap ceria seperti biasanya. Namun, semenjak lulus SMA dan kuliah, hubungan kami tidak putus seperti aku dengan Yukinoshita. Dari kabar terakhir yang kudengar darinya sih, rupanya dia masih jomblo.

Hiratsuka-sensei. Guru wanita yang sangat dekat denganku saat SMA. Meskipun kepribadiannya terkadang galak, tetapi dia juga sering mengeluarkan kata-kata mutiara. Terutama, aku paling mengingat kata-katanya padaku yang tempo hari dia ucapkan “Hidup tanpa menyakiti orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa kaulakukan. Selama kau hidup, sadar ataupun tidak, kau pasti pernah melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain.” Perkataannya mengingatkanku bahwa saat itu aku berusaha untuk tidak menyakiti orang lain dan semua beban kutanggung oleh diriku sendiri.
Dan untungnya tidak lama setelah aku selesai kuliah, dia menikah dengan pria yang cukup mapan.

Yuigahama Yui. Perempuan yang kuanggap baik padaku, dan yang pastinya juga baik terhadap orang lain. Meski hubungan kami pernah renggang, tapi berkat suatu kesalahpahaman antara aku dan Yukinoshita, hubungan kami pun membaik. Selain Yukinoshita, dan juga Isshiki, dia adalah perempuan seumuranku yang dekat denganku saat SMA. Terlebih untuknya, dia juga dekat denganku saat kuliah karena kami satu universitas. Banyak yang bilang bahwa dia itu sebenarnya menyukaiku. Tapi aku tidak tahu, atau lebih tepatnya pura-pura tidak tahu. Dia sosok yang baik dan ceria di hadapanku dan juga di hadapan orang lain. Semasa kuliah, dia termasuk perempuan yang cukup populer. Apa lagi karena juga dia bekerja paruh waktu sebagai seorang model. Yah, jadi wajarlah. Hubungan kami sampai sekarang tetap baik-baik saja, dan dia pun sering menghubungiku. Lalu, ternyata dia semakin sukses dalam pekerjaannya. Yah, meskipun pekerjaanku hanyalah seperti ini, tapi kalau masalah penghasilan, aku enggak kalah sukses dengannya, kok.

Selain dengan perempuan yang kusebut di atas tadi, sebenarnya aku hanya sebatas kenal mereka dan mereka juga kenal aku. Mungkin hanya itu. Tapi yang satu ini memang sulit kupercaya. Perubahan dirinya selama lima tahun enam bulan ini cukup membuatku tercengang. Perubahannya saja membuatku tercengang, apa lagi ditambah perkataannya waktu itu. Memang aku sih menerimanya, tapi bagaimana dengan lingkungan sekitarnya? Bukankah dia hanya memperburuk keadaannya sendiri?

Dia sudah menjadi sosok yang ceria dan periang, dan dia pun sudah memulai debut menjadi seiyuu pemeran utama di sebuah anime. Padahal umurnya masih muda. Perubahan drastis itulah yang membuatku tercengang. Dirinya bukan yang seperti dahulu lagi. Dan baru kusadari, bahwa selama ini dia mempunyai ketertarikan terhadapku.

Hingga pada akhirnya, satu bulan yang lalu kami bertemu di sebuah restoran. Awalnya, aku mendapat ajakan untuk bertemu seseorang di email-ku. Dia bilang kalau dirinya adalah orang yang pastinya kukenal. Saat itu aku sebenarnya tidak begitu peduli, tetapi dia membujukku untuk tetap datang. Aku jadi penasaran siapakah orang itu? Pertama yang terlintas di pikiranku adalah Yukinoshita? Kenapa dia? Karena dialah perempuan yang cukup kukenal dan hubungan sosialisasi kami pun telah putus semenjak dia ke luar negeri. Itulah yang mendasari kenapa aku berpikiran bahwa yang mengirimkan aku email adalah Yukinoshita. Walau sebenarnya dari gaya bahasanya, itu jelas sekali tidak seperti Yukinoshita.

Tepat di hari yang dijanjikan, dengan perasaan yang agak malas, mengenakan atasan kemeja dan bawahan celana bahan, aku mendatangi restoran yang tertulis dalam ajakannya itu.

Saat di dalam restoran dan ketika hendak duduk, aku ditanya oleh salah satu pelayan di restoran tersebut tentang namaku. Aku yang cukup heran kenapa ditanya nama dengan spontan menjawab “Hikigaya Hachiman.” Setelah mendengar namaku, pelayannya langsung menyuruhku pindah tempat duduk. Ternyata aku dipindahkan ke tempat yang lebih mewah. Katanya tempat ini sudah dipesan untukku dan seseorang. Mendengar perkataan itu, aku jadi makin penasaran. Ketika ditanya pelayan itu aku hendak memesan apa, aku putuskan untuk memesan kopi saja agar tidak terlalu banyak menguras uangku.

Ketika aku melihat ke arah sekeliling, tempat ini wajar bila dikatakan mewah, lilin-lilin yang menghiasi, serta alunan musik juga mengiringi. Tempat duduk di mana aku menunggu juga terasa empuk dan ukiran kayunya pun bisa terbilang bagus. Mejanya cukup besar namun sesuai untuk dua orang. Sebenarnya siapa sih yang mengajakku ke tempat seperti ini?

Tidak beberapa lama pesananku datang. Lalu, tak lama setelah pesananku tiba, aku mencoba meminumnya selagi menunggu orang itu datang. Rasa getir khas kopi ditambah dengan suhu yang agak panas langsung menjalar di lidahku ketika aku meminumnya. Walau begitu, aku menikmatinya. Dan beberapa saat kemudian, aku menaruh gelas yang masih berisikan kopi itu ke atas meja. Aku teringat penampilanku yang rapi ini tidak jauh berbeda kalau aku mau pergi ke sebuah restoran, kafe, atau acara-acara penting. Kurang lebih penampilanku ini seperti saat pergi ke kafe di lantai hotel paling atas bersama Yuigahama dan juga Yukinoshita dalam rangka menyelidiki Kawasaki.

Ketika aku menunggu dengan tenangnya, tiba-tiba pundakku ditepuk oleh seseorang, dan saat aku menoleh ke belakang ….

“Hai, senpai! Sudah lama tidak bertemu, ya!”

Dia siapa? Itulah yang pertama kali terlintas di benakku ketika dia menyapaku.

Dia mengenakan gaun berwarna hitam elegan dan menguncir rambut hitam panjangnya dengan kuncir kuda. Selain parasnya yang luar biasa cantik, aroma tubuhnya nan sungguh harum pun tercium. Sungguh, kombinasi yang sangat menakjubkan.
Namun, walau aku kagum akan penampilannya, aku tidak tahu siapa dia. Kalau aku mengira dia Isshiki, sepertinya tidak. Selain karena waran rambutnya berbeda, rambut Isshiki pun jarang dibiarkan olehnya melebihi bahu. Lalu, yang terutama, wajahnya bukan seperti Isshiki.

“Senpai! Kamu sudah lupa padaku, ya?”

Saat aku terdiam dan tampak bingung, kembali dia melontarkan ucapan dengan suaranya yang sangat imut. Bila didengar, suaranya memang tidak jauh berbeda dengan Isshiki, tapi entah kenapa aku merasa kalau suaranya lebih imut.

“Ah, maaf, iya aku lupa.”

Aku mengakuinya dengan jujur daripada mencoba mengingat-ingat dan lalu asal tebak. Karena jujur, aku malas mengingat-ingat suatu hal yang sebenarnya sudah kulupa.

“Ah, sudah kuduga.”

Dia berkata seperti itu dan kemudian dia melangkah lalu duduk di bangku yang terletak di seberangku dan saat duduknya berhadapan denganku, dia berkata:

“Ini aku lo, Tsurumi Rumi.”



Tsurumi Rumi? Seperti nama yang pernah kudengar sebelumnya. Kalau ini, aku yakin aku pernah cukup kenal dengan nama ini dan tak lupa. Setelah beberapa saat mengingat, aku pun ingat. Dia Tsurumi Rumi yang waktu itu!

“Tsurumi Rumi yang terakhir kali aku berbicara denganmu itu saat acara menjelang natal?”

“Iya benar, senpai! Syukurlah kamu mengingatnya.”

Perubahan signifikan selama lima tahun enam bulan itu membuatku merasa asing terhadap sosoknya. Dia tidak lupa akan wajahku karena memang tak banyak berbeda, namun ketika melihat sosoknya, aku benar-benar lupa. Siapa sangka gadis ceria yang duduk di hadapanku ini adalah gadis yang sangat pendiam pada lima tahun lalu?

“Jadi, maksudmu mengajakku ke sini adalah untuk memberitahuku, bahwa dirimu sudah banyak berubah daripada aku?”

Seperti biasa. caraku berkomentar memang seperti ini walau sebenarnya kuucapkan secara sadar.

“Bukan seperti itu sebenarnya, senpai! Ya memang sih aku sudah banyak berubah, tapi melihat dirimu yang begini-begini saja sudah membuatku senang!”

Dia mencoba berkilah dan wajahnya sedikit kemerahan ketika dia mengatakan kalimat terakhir. Ya walau heran, sebenarnya aku juga tersipu sih, karena ternyata ada yang senang tentang penampilanku yang apa adanya ini.

“Jadi perubahan apa yang sudah kau alami?”

Tanyaku kemudian untuk melanjutkan pembicaraan.

“Yang paling utama, semenjak lulus SD dan masuk SMP, aku sudah mendapat cukup banyak teman ketika aku mengubah caraku berbicara. Dan sekarang, aku sudah menjadi seiyuu karakter utama sebuah anime di usiaku yang baru enam belas tahun ini.”

Dia mengatakan dengan nada yang cukup imut. Pantas saja dia berkata seperti itu, ternyata dia telah menjadi seiyuu. Aku cukup terkejut dengan jawabannya itu dan kemudian meresponsnya.

“Begitukah? Baguslah kalau begitu. Aku turut senang.”

“Terima kasih, senpai! Omong-omong, kalau senpai sendiri, sekarang bagaimana?”

“Aku? Ya aku sih sejak lulus kuliah, lebih memilih mendalami usaha bisnis online-ku. Walau terkesan malas, tapi penghasilan yang kudapat terkadang lebih dari cukup untuk memenuhi biaya hidupku selama sebulan.”

Aku mengatakan itu dengan nada yang terkesan biasa saja. Tak sedikit pun bermaksud membanggakan diri. Habisnya, mana mungkin kubangga mengatakan hal itu di hadapan perempuan secantik dirinya.

“Begitukah?! Wah itu memang terdengar seperti dirimu, senpai! Aku tidak menyangka kau akan terus menjadi dirimu, seperti dirimu lima tahun yang lalu!”

Dia mengatakan itu dengan nada riang. Jujur, aku bingung harus menanggapinya sebagai pujian, atau hinaan. Dan setelah itu pelayan datang menanyakan kami mau makan apa. Katanya dia yang mentraktir, tapi aku tak enak hati. Ketika aku menolak untuk makan, dia malah memilihkanku makanan yang sama sepertinya. Ya, kebetulan aku juga suka makanan itu, jadi apa boleh buat. Setelah itu, aku pun menjawab perkataannya yang tadi.

“Memangnya tidak boleh ya aku tetap seperti ini?”

“Ya jelas boleh! Itu kan ciri khas dirimu, senpai!”

“Omong-omong, kenapa kau terus memanggilku “senpai”? Kau lupa namaku?”

“Ya aku masih ingat dengan jelas. Bagaimana kalau jadi “Hachiman-senpai?!”

“Sebenarnya kenapa kau terus menambahkan kata “senpai” sih?

“Ya karena kamu lebih tua di bandingkan denganku.”

“Oh begitukah? Ya sudah panggil aku sesukamu saja.”

“Oke baiklah kalau begitu! Terima kasih!”

Dia nampaknya senang sekali. Itu bisa dilihat dari respons terakhinya. Kemudian makanan yang dipesan pun datang, kami pun makan dan juga sembari sesekali mengobrol. Pun, setelah selesai makan, kami masih melanjutkan obrolan kami. Kami bercerita tentang apa saja mulai dari permasalahan kecil, sampai bagaimana aku ketika kuliah.

Dan kemudian dia pun bertanya.

“Senpai, apa kamu sudah punya pacar?”

Setelah mendengar pertanyaan itu, aku sebenarnya agak terkejut namun dari nada bicaranya, sepertinya dia sangat ingin tahu.

“Belum.” jawabku singkat dan jujur.

“Wah! Apa kau sudah pernah mempunyai pacar?”

“Belum pernah.” jawabku lagi seraya nenahan malu.

“Wah! Benar-benar terdengar seperti dirimu, senpai!”

“Benar-benar terdengar seperti diriku yang selalu gagal ataupun ditolak ketika menyatakan cinta kepada seorang perempuan ya? Begitukah maksudmu?

“Bukan begitu. Benar-benar seperti dirimu yang kurang minat terhadap perempuan.”

“Oh begitu.”

Perkataannya ada benarnya, karena saat SMA saja, entah kenapa hatiku malah terpincut oleh Totsuka.
Dan setelah itu kami melanjutkan obrolan kami. Kemudian ada saat di mana aku dan dia sama-sama diam. Suasana di antara kami menjadi hening.

Namun tak berapa lama kemudian, dia mencoba mengatakan sesuatu.

“Se-se-senpai …

... selama ini aku telah menyukaimu.

Maukah kamu menjadi pa-pa-pacarku?”

Deg. Jantungku rasanya berhenti berdegup. Hatiku seperti luluh lantah. Tanganku seolah tak bertenaga. Kesadaranku seakan hilang, rohku seperti melayang-layang, aku serasa sedang diawang-awang.

Pertama kalinya dalam hidupku, ada seorang gadis berparas cantik yang sedang duduk di hadapanku, menyatakan cintanya kepadaku. Dan dia mengatakan itu dengan tergagap, lalu kemudian mukanya memerah. Eh tapi, kenapa wajahku jadi ikutan memerah? Apa ini reaksi yang wajar …?

“Tu-tu-tunggu dulu! Apa yang kau katakan barusan? Apakah itu bagian dari dialog yang harus kau bacakan nanti di sebuah anime? Apa kau sedang melakukan improvisasi?”

Di saat sedang tergagap sekaligus tersipu, aku memulihkan diriku dari delusi, dan mencoba memikirkan kemungkinan lain kenapa dia berkata seperti itu.

“Jelas bukan! Aku benar-benar ingin kamu jadi pacarku, senpai!”

Dia membantah kemungkinan yang kukatakan dengan nada cukup serius walau raut wajahnya tetap saja memerah. Ah, saat memerah, kecantikannya malah bertambah.

“Ta-ta-tapi kenapa aku …? Kalau kamu pastinya banyak yang menyukaimu.”

Dengan gugup, aku coba bertanya alasan kenapa dia mengatakan itu padaku, yang bisa jadi pernyataan cintanya itu salah alamat.

“Ya, walau kuakui memang banyak yang menyukaiku, tapi aku belum pernah menerima sekali pun rasa suka mereka. Aku juga belum pernah berpacaran. Mereka hanya tertarik pada diriku yang telah berubah, namun kamu telah mencuri hatiku sedari dulu. Lalu, ketika aku tahu kalau kamu juga belum pernah punya pacar, maka dari itu aku langsung berniat mengungkapkan perasaanku.”

Dari suaranya terdengar dia mencoba tetap tegas walau harus kuakui rasa malu masih terdapat dalam pengucapannya, terlebih di kalimat terakhir, aku melihatnya mengatakan itu sembari melihat ke arah bawah.

“Apa yang kau harapkan dariku? Aku lebih tua darimu, aku lebih pecundang darimu, aku tidak pantas untukmu. Jika kita menjalin suatu hubungan, dan nanti orang tuamu mengetahui kalau kau pacaran dengan orang sepertiku, orang tuamu pasti akan langsung membuat hubungan kita berakhir. Dan selanjutnya kamu pasti akan sedih.”

Kukatakan semua risiko yang nanti dia akan terima jika dia berpacaran denganku. Ya, kubilang itu suatu risiko karena aku hanya melihat kerugian yang akan dia dapatkan jika ia nantinya bersamaku. Berbanding terbalik denganku, yang pasti akan sangat bersyukur bisa mendapat gadis sepertinya.

“Aku telah membiarkan orang tuaku tahu kalau aku akan mengungkapkan cinta. Kubilang pada mereka, bahwa meski orang itu tidak terlalu menarik dari luarnya, tapi dialah yang sebenarnya mengubah hidupku. Perlakuan baik yang kuterima dari dia sangat membekas di hatiku. Maka dari itu, aku berusaha untuk menjadi orang yang sukses sehingga tak masalah, bilaman kamu tak sukses. Orang tuaku pun sudah mengizinkan jika itu memang mauku. Tapi ternyata, tanpa kuduga, kamu pun sudah mencoba sukses dengan caramu sendiri. Meskipun terdengar pemalas, tapi itulah dirimu, senpai!”

Dia mengatakan itu dengan sungguh-sungguh sambil menatap mataku, lebih tepatnya tatapan tersebut menghunjam jantungku. Membuat ragaku seolah tak berdaya. Tidak kutemukan satu pun dusta dari perkataannya. Dia tidak seperti perempuan baik yang pernah kukenal. Dan juga kulihat di pelupuk matanya, air matanya hampir tumpah, namun seakan dia tahan.

“Okelah kalau memang begitu maumu. Kalau itu tidak membuatmu kesulitan, aku terima saja.”

Aku pun akhirnya memberikan dia jawaban yang positif. Karena, mana mungkin aku sanggup menolak pernyataan cinta dari seorang perempuan yang begitu tulus seperti dia?

“Benarkah?! Syukurlah …!”

Dan semenjak hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berpacaran. Aku memacari seorang gadis yang usianya berbeda sekitar enam tahun denganku. Aku jadi terkesan om-om yang memacari dia karena hanya menjadikannya pemuas nafsuku saja. Walau kenyataannya, dialah yang terlebih dahulu tulus padaku.

Tidak lama setelah itu, kami bertukar nomor telepon dan mengakhiri percakapan kami. Lalu, kembali pulang ke rumah masing-masing. Atau dia mungkin menetap di asrama? Aku tidak sempat menanyakan itu tadi.

Layaknya orang yang berpacaran kami saling berkomunikasi baik melalui ponsel, ataupun di dunia nyata ketika dia memiliki waktu yang senggang. Dan biasanya kami juga melakukan kencan ketika dia sedang tidak sibuk. Hingga akhirnya hari itu tiba. Hari di mana terjadi sebuah kejadian yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Kejadian itu terjadi ketika aku dengannya mendatangi sebuah festival tahunan yang cukup besar. Aku pun ingat bahwa terakhir kali aku ke sana yaitu bersama Yui. Dan kini aku datang bersama perempuan yang resmi menjadi pacarku. Tujuan kami datang ke sana sebenarnya hanya ingin melihat kembang api bersama, tetapi pada akhirnya kami menikmati jajanan yang ada terlebih dahulu. Hingga pada akhirnya, pertunjukkan kembang api dimulai. Di bawah letupan kembang api tersebut, aku menatapnya yang sedang melihat ke arah kembang api nan sungguh indah. Dirinya saat itu dibalut dengan yukata yang membuatnya terlihat sangat cantik. Bahkan cantiknya melebihi Yui yang waktu itu juga mengenakan pakaian sama. Aku sungguh bersyukur dirinya yang elok itu mau menerima diriku yang rumpang ini.
Setelah puas menatapinya dari samping, aku pun berkata padanya “Menghadaplah ke mari ....” Dan tak lama kemudian, dia menghadap ke arahku.
Mata kami saling bertemu, perasaan kami saling bertaut, dan hati kami saling terhubung.
Saat merendahkan sedikit badanku, kulihat matanya pun perlahan menutup seolah mengerti maksudku.
Dan kemudian, seraya diiringi dengan letupan kembang api, aku meluncurkan kecupan manis ke bibirnya yang merekah itu.

Itu adalah ciuman pertama masing-masing kami. Saat berciuman, aku merasa bahwa diriku telah berada di kayangan dan sedang menjalin kasih dengan bidadari cantik jelita yang ada di sana. Sungguh, ciuman pertama yang amat manis.

Ketika bibir ini masih saling mengecup, aku pun teringat bahwa sehari sebelumnya, dia mengenalkanku pada orang tuanya, dan ternyata orang tuanya cukup ramah dan senang menyambutku. Dia dengan cepat mengatakan bahwa akulah pacarnya yang dia maksud. Sedikit tersipu, aku mengakuinya. Dan setelah itu, aku makan malam di rumahnya. Saat itu, oleh orang tuanya, tak lupa diriku ini ditanyai pertanyaan oleh mereka: Apa yang kamu sukai dari Rumi? Dengan jujur aku menjawab ketulusannya dan juga parasnya. Jawaban yang terbilang standar, namun memang begitu adanya. Dan setelah itu kami mengobrol tentang berbagai hal, termasuk mengenai bisnisku, yang ternyata membuat orang tuanya sangat tertarik, sampai minta diajari caranya.

Kembali ke hal tadi, sesaat setelah mengingat hal itu, bibirku pun mulai kujauhkan dari bibirnya, dan dia melakukan hal yang sama. Setelah itu posisi kami seperti sedia kala. Dan untuk sejenak, kami diam tanpa kata. Yang jelas kuakui bahwa hati ini tak kunjung berhenti berdebar. Wajah ini tak bisa berhenti tersipu. Kulihat reaksinya pun sama. Namun, tak lama kemudian, ketika kami sedang membisu dan pertunjukkan kembang apinya telah selesai, dengan raut wajahnya yang memerah disertai senyuman, dia memecah keheningan dan berkata padaku:

“Tunggu aku ya, Hachiman-senpai!”

“Tunggu apanya?”

“Tunggu setelah aku lulus dari sekolah seiyuu ini dan kemudian kita menikah.”

Dia mengatakan hal itu dengan entengnya seperti tidak ada keraguan dalam ucapannya. Tentu saja perkataan itu membuatku terkejut. Rasanya jantungku seakan mau meledak, saat itu juga.

“Me-me-menikah? Kamu serius ingin menikah di usia muda? Bukankah itu akan membuat kariermu terancam?”

Dengan gugup, sekaligus malu sebagai laki-laki, karena dilamar duluan, aku pun spontan merespons seperti itu. Ya, dewasa ini, menikah pada usia yang cukup muda di tengah-tengah karier yang menanjak, bisa berakibat fatal.

“Tenang saja. Aku akan tetap serius dalam karierku meski nanti aku menikah. Agensiku katanya pun tidak keberatan. Lalu, yang terpenting, kamu pun telah mempunyai modal cukup kan untuk setidaknya nanti kita menikah, Hachiman-senpai?”

Saat kudengar kata-kata itu, seraya pandangi bola matanya, tak ada kata selain “keseriusan” yang bisa menggambarkannya.

“Ya, kalau masalah modal sih memang tidak masalah. Karena perkembangan bisnis online-ku juga semakin bagus dan tabunganku pun sudah lumayan banyak. Tapi apa tidak masalah untukmu?”

“Kalau aku sih tidak masalah. Aku tetap akan bekerja meski nanti sudah menikah. Dan kamu yang jaga rumah, Hachiman-senpai. Hehehe.”

Dia terkekeh mengatakan itu, seolah-olah hal tersebut wajar dilakukan.

“Apa orang tuamu tidak keberatan?”

“Orang tuaku sih setuju-setuju saja. Bagaimana dengan orang tuamu, Hachiman-senpai?”

“Orang tuaku pastinya akan setuju, atau malah bangga ketika tahu anaknya yang sepertiku akan menikah dengan seorang gadis yang paras cantiknya tidak tertahankan.”

“Ah kamu menggodaku saja.”

Dia berujar sambil mendorong badanku sedikit seraya sedikit memalingkan wajahnya dari hadapanku. Wajah tersipunya memang luar biasa manis.

“Tidak, aku serius kok!”

“Sungguh?”

“Iya.”

“Aku cinta kamu, Hachiman-senpai!”


Dia mengatakan itu dengan suara imut yang seolah menunjukkan kualitasnya sebagai seorang seiyuu. Suara menggodanya itu memang tak tertahankan. Lalu, rasanya pun bagai mimpi, bahwa gadis yang dulunya pendiam dan terpaut sekitar enam tahun usianya denganku, menjadi pacar pertamaku dan aku juga merupakan cinta pertamanya ….

××××××××

Kembali berpikir tentang hal itu, menikah sama sekali tidak terpikir sebelumnya dalam hidupku. Sembari menatap langit-langit kamar, aku penasaran betapa sakitnya hati yang telah ditolak oleh Rumi. Dan malah pada akhirnya Rumi menjalin hubungan yang cukup serius dengan orang sepertiku. Apalagi kami pun telah membicarakan pernikahan. Aku sudah memberikan respons positif ketika dia mengajakku menikah kalau dia memang tidak keberatan menikah dengan seorang penyendiri sepertiku yang terkesan aneh. Selain itu, aku pun masih membayangkan hidupku akan bagaimana setelah menikah nanti. Dia bilang bahwa dirinya tetap akan bekerja dan akulah yang jaga rumah, sekalian berbisnis. Tapi, bukankah itu terkesan bahwa akulah yang menjadi bapak rumah tangga …? Sebuah harapan konyol yang pernah kulontarkan mengenai keinginanku ketika menikah nanti. Dan aku juga pernah menganggap pernikahan hanyalah sesuatu yang menyusahkan saja, sampai akhirnya kubuang pemikiran itu kala menjalin hubungan dengannya. Tapi, aku pun sama sekali tidak pernah berpikir bahwa harapan konyol itu akan menjadi kenyataan. Namun kalau benar begitu, aku harus lebih serius dalam menjalankan bisnisku. Aku tidak ingin dia bekerja terlalu letih. Aku tidak ingin fisiknya menjadi lemah. Aku tidak ingin dia kecewa terhadapku. Aku tidak ingin …. Aku tidak ingin …. Mungkin masih banyak lagi yang harus kupikirkan. Dan tak lama setelah itu, tanpa sadar, aku pun tertidur ….







Setelah membacanya, ada baiknya berikanlah tanggapan kalian di kolom komentar yang telah disediakan. Sekian dan terima kasih. Mau ngamok juga boleh. XD


7 komentar:

  1. sugeeeeeeee......
    gx nyangka hachiman jadinya malah sama kurumi
    terharu banget pas bacanya

    BalasHapus
  2. Versi dewasanya mungkin mirip Shizuka Hiratsuka..
    Klo di buat mirip Yukino Yukinoshita bosen liatnya... 😃😃

    BalasHapus
  3. boleh izin share min ?
    mayan nih

    BalasHapus
  4. mantap nih kalo ini di jadi anime terakhir dari oregairu s3 (cuma sebatas angan2) xd

    BalasHapus